Rabu, 11 Januari 2012

Bintang

Bintang..., apa kabar denganmu? Lama kita tak berbincang seperti dulu. Aku ingin bercerita bagaimana dikucilkan dari pikiran dan perasaan disakiti dan merasa kesakitan. tentang bagaimana kau harus mengabaikan pikiran dan perasaan yang selalu terkalahkan..., yang terjadi di penggalan hidupmu. 

Kau tahu, ini adalah saat terberat bagiku? perasaan tergantung. Ya, kau gantung perasaanku meski bersamamu adalah pilihanku. Kusadari dengan segenap kesadaranku, pilihan itulah yang membawaku ke sebuah telaga bening yang telah lama kucari di dalam hidupku. Telaga itu, andai kau tau, berada di dalam dirimu. Jauh di kedalaman dirimu yang hanya bisa terjangkau oleh mata cinta. 

Kumohon, Bintang. Jangan kau jauhi diriku. Jangan kau timpa perasaanku dengan ketidakpastian seperti ini. aku tak sanggup. Tak akan sanggup, Bintang. Aku terlalu lelah melawan ketidakpastian hidupku seorang diri...

Seperti lunar sabit yang selalu kusuka. Kau masih memiliki kesempatan untuk tumbuh, membesar, dan memenuhi seluruh permukaan dengan cahaya. Lalu, kau akan melukis berbagai imajinasi keperakan, bila saatnya tiba. Kau, lunar sabit itu, tetaplah bercahaya untuk menemui gelap malam. :)

-Kepribadian A....-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar